OTG, Hidup Damai bersama Wabah
Oleh Toni Gempur
Prolog: Bahkan untuk sebuah sebab dari rasa sakit ini, tak perlu orang lain tahu
NEWSLETTERJABAR.COM-- Sisa semangat hidup yang membersit sejak pagi hari sampai siang, yang masih terbawa hingga ke penghujung senja hari itu, akhirnya hanya tergantung di angkasa saat menjelang malam. Segala agenda tak dapat tertuntaskan, bahkan untuk dibawa ke sebuah mimpi pun tidak mungkin.
Semua rencana hari itu berakhir luluh-lantak. Agenda-agenda yang telah bersemayam di benak pun menjadi panding atau malah gugur dengan sendirinya.
Memang kaget menanggung rasa sakit yang tiba-tiba saja menyergap. Rasa sakit itu menyergap justru saat hati, pikiran, dan raga ini sedang lenggang-lenggangnya melanjutkan langkah keseharian dalam menempuh waktu-waktu hidup selanjutnya.
Ya nyaris tak ada jeda di antara tubuh waras dengan tubuh yang tiba-tiba ambruk.
Sejadi-jadinya rasa sakit itu menyekat ruas tenggorokan seumpama tangan-tangan jahat dengan niat isengnya mencekik serta membekam saluran pernapasan. Rasa sakit itu seperti memporak-porandakan sendi, otot, tulang, dan mengganggu jalannya aliran darah pada pembuluhnya.
Dan rasa sakit itupun secepat kilat masuk dan menyebar ke keseluruhan tubuh, otot dan persendian, serta mengoyak saraf-saraf rasa lainnya. Dia ibarat racun yang digerakan serupa mesin yang terprogram dengan seksama; entah virus, bakteri, atau baksil lainnya, yang jelas daya terjangnya berpotensi mematikan bagi orang yang terburu-buru panik.
Jelas, sangat wajar bila bikin panik!
Tidak panik bagaimana jika suhu tubuh naik drastis sementara rasa dingin ibarat tubuh terbungkus ditumpukan salju, menjadikan setiap otot, nadi, serta engsel persendian terasa ngilu termasuk tulang-tulang, tulang rusuk, dan tulang bagian pinggang.
Selain itu, lambung terasa perih dan mual; otot pada bagian leher terasa sangat pegal termasuk kepala sakit dan pusing.
Sungguh rasanya seperti itu!!!
Malam hari itu terasa menjadi malam yang sebenarnya; malam yang menyerupai belantara tak berpenghuni, kecuali suara-suara asing yang bernada desingan-desingan menyesaki kuping; malam yang menjadi kelam dan membuat banyak kekhawatiran akan kelangsungan hidup; dan malam yang seakan-akan berada dalam pilihan di antara hidup dengan mati yang menyergap diri menjadi sangat kerdil, gelisah, dan nelangsa dalam merasakan rasa curiga atas pengintai jiwa-jiwa di kegelapan yang dapat menggugurkan kekuatan iman.
Dan pada setiap malam-malam saat sakit itu sering hadir berjuta kewas-wasan atas azab dari beragam dosa manusia; ngeri dengan kehadiran malaikat pencabut nyawa.
Senyatanya setiap kita di dunia ini tidak memiliki kuasa yang sebenarnya. Nyali kita senyatanya nyali sang labil, nihil arti, dan hampa dari segala makna pengabdian dan imbalan.
Hanya sedikit hak dan kesempatan yang kita miliki, adalah memberdayakan harapan yang ada, lalu memanjatkannya melalui do'a, yakni do'a-do'a yang lahir dari kekhawatiran, kebimbangan, malah rasa ketakutan yang teramat mendalam yang menjelma saat kita membayangkan ancaman bencana --bencana apapun yang tak bisa lagi berdamai dengan manusia. (*)
Komentar
Posting Komentar