Pergantian Waktu, akankah Kesusahan Berubah Kesenangan
NEWSLETTERJABAR.COM—Sebenarnya kita sudah terbunuh untuk segala kesempatan masa lalu! Kecuali kita hanya bisa mengenangnya.
Senyatanya, pada saat-saat akan bergantinya tahun seperti ini (seperti
yang akan banyak orang merayakannya), bagi kita sebenarnya patut merinci serta
mengijir segala peristiwa yang telah terjalani.
Tiada lain, agar kita miliki sebuah kesadaran akan sebegitu
banyaknya karunia yang telah kita terima dari Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta
dengan kemahakuasaan dan kemahamurahan-Nya.
Karena itu, pada setiap waktu berganti itu, kita memiliki
keharusan untuk bersyukur karena masih memiliki kesempatan menikmati
detik-detik seiring detak jantung dan helaan napas kita.
Dalam perjalanan hidup ini, sejatinya, akan ada sisi lebih dan kurang.
Itu yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup kita.
Pada sisi kekurangan itulah, biasanya kita selalu menganggapnya sebagai problematika. Sementara, sisi lebihnya adalah romantika kesenangan belaka.
Akan hal itu, mungkin kita memiliki kesalahan besar atas asumsi
terhadap kekurangam serta kelebihan tersebut, jika kesusahan dan kesenangan
hanya dipandang sebagai pemenuhan hasrat atas kebutuhan yang berkaitan dengan
harta, tahta, dan wanita atau pria yang dipandang sebagai kebutuhan duniawiah
semata.
Sadarilah, kesusahan - kesenangan yang berhubungan dengan bentuk dan
sifat-sifat keduniawian itu hanyalah permainan rasa belaka.
Jika demikian, siasatilah kesusahan dan kesenangan yang
mendasar dengan sebenarnya, terlebih pasa saat zaman terasa semakin tidak
memberikan kejelasan akan hakekat keduanya.
Jika memang kita sudah menyadari sisi kekurangan kita, maka
dari hari ke hari kita selalu harus selalu berupaya memperbaiki iklim hidup
kita.
Kita tentu tidak berharap iklim itu menimpa nasib kita ke
titik nadir kehidupan yang menjadikan kita memiliki peruntungan yang dapat
membuat martabat hidup ke tingkat yang rendah.
Kita semua sejatinya memiliki jati diri.
Pahamilah, orang yang senantiasa
sadar akan jatidirinya akan dapat mengendalikan diri dengan sebaik-baiknya.
Ia takan terpengaruh desakan buruk dari manapun itu
datangnya. Juga, kapanpun desakan buruk itu datang; kemarin, sekarang, bahkan
besok-lusa, dia akan tetap pada pendiriannya.
Dirinya akan selalu menerima keberadaannya. Dia takan kecewa karena kegagalan atas harapannya. Tidak pula merasa perlu bersuka ria saat keberhasilan dicapainya.
Jiwa dan pikiran orang yang sadar akan jati dirinya seakan tercerahkan dengan pemahaman atas bisikan-bisikan nurani yang senantiasa mengisyaratkan bahwa raga itu kesementaraan; dan amalan-amalan dalam kehidupannya adalah keabadian. (*)
Tulisan ini sekedar bersitan rasa penulis semata, bukan karya jurnalistik.
Komentar
Posting Komentar