Prihatin, Kerja 'Full Time', Petugas Jenazah Covid-19 RSU dr. Slamet Garut, 'belum' Terima Honor Empat Bulan
Petugas jenazah, saat mengantarkan pasien Covid-19 yang meninggal dunia pada Minggu (29/11/2020) dini hari/IWO
Dikatakan, petugas yang terdiri 7 orang tersebut bekerja selama 1x24 Jam, terlebih jika terdapat pasien Covid-19 yang meninggal dalam hitungan yang banyak.
Salah seorang perugas jenazah, Bah Oyon, mengungkapkan rasa bingungnya atas keberadaan tersebutFoto IWO
"Sudah sering kasbon. Bingung istri
di rumah setiap bulan menanyakan intensif atau uang honor," keluh Bah Oyon. Minggu (29/11/2020) saat ditemui di Kecamatan Cibatu usai mengantar jenazah yang terkonfirmasi Covid-19.
Foto IWO
Ditambahkan Bah Oyon, intensif atau honor yang diterima bersama 6 orang petugas lainnya tersebut nilainya Rp 10 Juta untuk 7 petugas.
Kendati jumlahnya sangat minim, lanjut Bah Oyon, tugas mengantarkan dan memakamkan jenazah Covid-19 terus dijalani walaupun dalam satu hari, kadang-kadang lebih dari 1 jenazah.
Atas keberadaan tersebut, Bah Oyon merasa keheranan serta mempertanyakan keterlambatan insentif tersebut.
Foto IWO
"Aneh juga, kenapa terlambat pembayaran intensifnya. Kita satu tim menunggu dan menunggu. Ini sudah empat bulan," ucapnya.
Dituturkan Bah Oyon, menjadi petugas pengantar dan memakamkan pasien Covid-19 bukan hal yang mudah, melainkan penuh perjuangan, dilakukan di tengah wabah corona yang terus merebak.
"Sejak pagi sampai subuh saja. Sekarang masih ada pasien yang meninggal dunia yang harus diantar sekaligus dimakamkan," tutur Bah Oyon.
Karena banyak resiko, papar Bah Oyo, seharusnya Pemerintah Kabupaten Garut memperhatikan para petugas yang bekerja tidak mengenal lelah, terlebih dengan rentannya tertular virus Covid-19.
"Sejak pagi terus memakai pakaian APD lengkap dengan masker serta sarung tangan yang berlapis. Tak jarang keringat terus keluar sampai membasahi seluruh tubuh," jelas dia. (tim iwo)
Komentar
Posting Komentar